Semeru

Kalau saya seorang pemusik, saya akan menulis lagu tentang indahnya Semeru. Kalau saja saya seorang pelukis, tentu saya adalah orang yang akan melukis magis dari Semeru. Gunung Semeru, berada di atas ketinggian 3676 mdpl, yang di apit dua kabupaten Malang dan Lumajang, menjadikan Semeru menjadi gunung tertinggi di Jawa Timur ini sangat membuat orang-orang khususnya backpacker tertarik untuk menaklukkan tingginya gunung ini. Tak terkecuali saya, ya saya akan menceritakan serunya mendaki di gunung Semeru ini.

Oktober,2013. Bersama teman-teman kantor waktu itu saya memutuskan untuk ikut di pendakian g. Semeru ini. Tak ada salahnya untuk menikmati indahnya alam bagi seorang pekerja kantoran di Jakarta yang jarang sekali menikmati indahnya alam Indonesia. Persiapan sudah di selesei, itenery pun sudah di rencanakan dengan baik. Berharap mendapat pengalaman dan tentu saja keindahan yang luar biasa dari magis gunung Semeru ini.

Matarmaja, kereta yang sudah kita pesan jauh-jauh hari untuk perjalanan pulang pergi Jakarta Malang. Kereta ini adalah kereta legend yang masih menjadi pilihan utama para perantau di Jakarta. Dari tiket masih berbentuk kotak, tidur di bawah kolong bangku atau di jalan dan pedagang keliling yang selalu membangunkan orang tidur di setiap saat sampai sekarang yang sudah bersih dan jauh dari kata tidak nyaman.


Malang, sampailah kita di Malang. Dengan 12 personil sampailah kita di stasiun kota baru Malang. Hawa sejuk kota ini mengingatkan ku pada 10 tahun yang lalu ketika pertama kali saya harus merantau dan jauh dari orang tua untuk menempuh pendidikan SMK di kota ini. Indah, segar dan mempesona, ya itu lah Malang. Akan kita bahas kota Malang di postingan berikutnya ya. Oke, lalu kita dijemput oleh porter menggunakan 2 mobil pickup dan menuju ke desa Ranu Pani untuk melakukan pendaftaran sebelum mendaki. Yang harus di persiapkan waktu itu adalah fotocopy identitas dan surat dokter. Setelah semua pendaftaran selesei kita istirahat sejenak sambil menunggu jam 2 siang karena kita akan start mendaki jam 2 siang.

Pendakian yang sangat melelahkan. Rombongan kita terbagi menjadi 2 karena memang ada 2 wanita di rombongan kita. Untuk yang terlebih dahulu sampai di ranau kumbolo harus mendirikan tenda. Dan saya berada di rombongan belakang, karena teman-teman sebagian memang masih sangat capek dan setiap tikungan jalan harus berhenti. Ranu kumbolo yang seharusnya bisa di tempuh 4-5 jam kini saya tempuh sampai hampir 9 jam. Pendakian paling susah adalah di tanjakan pos 3, sampai pos 3 kita sudah gelap dan kondisi tidak hujan. Di tanjakan pos 3 ini kita di suguhi dengan tanjakan yang agak sedikit tinggi namun dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat dan selain itu debu dari tanjakan ini kemana-mana. Tanjakan ini membuat kita sering istirahat bahkan sebelum menyeleseikan tanjakan ini pun kita harus menghirup botol oksigen yang sudah di persiapkan, karena ya memang curam.

Ranu Kumbolo. Sampailah kita di ranu Kombolo, bahkan sebelum sampaipun suara air dari ranu Kumbolo ini sangat terdengar indah dan wow this is great, this is beautifull and this is Indonesia. Karena tenda sudah di dirikan oleh beberapa teman, saya langsung menikmati pemandangan itu dan kamera ready to capture this Ranu Kumbolo. Suhu dingin dan pastinya langsung kita membuka makanan-makanan yang ada di tas ransel yang berat ini. Owh iya, saya adalah orang yang membawa logistik untuk memasak jadi ya teman-teman yang duluan sampai ranu Kumbolo harus menunggu saya sampai untuk makan. Makan lalu tidur sambil menanti pagi yang indah yang siap mempertunjukan lukisan indah dari Tuhan YME. Sunrise pun tiba dan matahari menampakan jati dirinya. Indah, indah dan indah. Sambil menikmati kopi saya poto sunrise ini untuk di nikmati di social media nantinya.

Tanjakan cinta. Yang menurut orang-orang adalah ketika lolos dari tanjakan ini kita akan memperoleh cinta yang ada di pikiran kita saat menanjak. Tanjakan cinta ini kalo dari bawah itu terasa "Wah, ini mudah", tapi ternyata sangat membuat saya lelah dan lama juga ya. Tanjakan cinta ini ternyata tinggi, namun tak kelihatan tinggi kalo dari bawah. 10 orang lanjut ke step berikutnya namun ada 2 kawan saya tidak ikut ke pendakian selanjutnya karena memang dari awal kawan saya ini hanya ingin sampai ranu kumbolo. Oke, lanjut ke tempat selanjutnya.


Oro-oro ombo. Ini adalah tempat yang bagus namun kita salah moment saat mendaki, karena tumbuhan yang seperti lavender ini atau nama bunga aslinya adalah Verbena Brasiliensis tidak tumbuh disaat cantik-cantik nya. Iya, mereka sedang layu dan berwarna coklat padahal ekspektasi saya waktu adalah berwarna ungu dan instagenic banget. Bunga ini salah satu target foto saya karena memang cantik dan indah bagai bidadari yang jatuh dari langit yang menjelma sebagai seorang manusia. Kita ambil foto-foto sejenak dan lanjut ke kalimati.

Kalimati. Tempat kita mendirikan tenda sebelum menuju puncak tertinggi Jawa ini. Dari kalimati ini pun puncak Semeru sudah kelihatan. Sedikit tertutup awan namun masih sangat mempesonakan mata saya. Setelah mendirikan tenda dan tiba dikalimati sekitar pukul 2 siang kita lanjut untuk makan siang dan istirahat sejenak untuk persiapan ke puncak semeru jam 12 malam nanti. Kalimati ini katanya adalah bekas sungai yang sudah tidak di aliri air lagi dan perlu di ketahui untuk mencari air di kalimati sangatlah susah karena memang sangat jauh dan itupun air nya tidak dalam jumlah volume yang besar.


Puncak yang gagal. Disinilah salah satu penyesalan dalam diri saya. Jam 12 malam kita berangkat menuju puncak, saya berada di barisan paling depan. Hal-hal positif berada di benak saya saat itu. Dari wah puncak semeru, wah harus sampai seberat apapun itu, wah pasti sampai. Suasana semeru memang sudah ramai sekali semenjak adanya film 5cm. Kata kawan saya, saat ini semeru sudah kayak jakarta, macet banget. Dan benar, untuk menuju ke jalur puncak, kita harus mengantri sangat panjang. Karena memang volume pendaki saat itu banyak sekali. Oke lanjut menuju puncak. Kita bersebelas menuju puncak, karena memang mas Porter tidak ikut ke puncak dan ingin menjaga barang-barang kami yang ada di tenda. Jalur puncak ini sangat berat, jalur ini di penuhi dengan pasir halus dan bebarapa batu. Banyak batu berjatuhan juga dan debu sangat ganas, sampai-sampai saya tidak bisa melihat kanan kiri. Sekali melihat kanan kiri eh ketemu seseorang yang hanya memakai sarung,ngerokok dan duduk dengan santainya sambil tersenyum. Saya hanya berpikir itu adalah warga yang iseng aja lagi nongki di Semeru, eh taunya pas saya tanya ke teman-teman tidak ada yang melihat. Aduhai, aduh seremnya. Sebenarnya puncak itu tidak jauh dari kita istirahat, namun ada kawan saya yang merasa kedinginan dan takut terjadi apa-apa seperti hypothermia ( penurunan suhu panas tubuh ) dan cewek pula akhirnya kami memutuskan untuk turun dan tidak melanjutkan ke puncak Mahameru ini. Selain itu kita rombongan juga sudah sangat lelah dan kedinginan. Ada pula pendaki lain saya tanya, "Mas, puncak masih jauh ?" dia jawab , "Lumayan mas, mau turun mas ?" , saya jawab "Iya mas, capek dan kebetulan ada temen yang sakit juga" eh dia malah ketawa, saya pikir menghina taunya dia bilang "Mas, saya aja udah 3 kali kesini gak pernah sampai puncak" . Saya mau ketawa juga kedinginan mau sedih juga eh lucu, saya timpalin "Yowes, ayo turun bareng-bareng mas". Turun lah kita dari setengah puncak semeru dan menuju ke kalimati.

Kita bermalam ke ranu kumbolo untuk persiapan turun keesokan harinya. Namun dalam perjalanan menuju ranu kumbolo hujan datang lagi, deras pula. Menambah dingin di kala itu. Namun, memang setiap perjalanan selalu ada rintangan hanya bagaimana anda bisa meneruskan perjalanan itu atau berhenti di tempat dan menikmati yang ada ? saya rasa teman teman akan melanjutkan perjalanan itu. Itulah berbagai cerita indah pengalaman di Semeru saya. Asiklah pokoknya, bagi anak muda jaman now mungkin harus naik ke gunung ini, biar tahu rasanya kalo buang sampah sembarangan itu akan menghancurkan diri anda sendiri.

Pengalaman yang menyenangkan di Semeru ini akan jadi awal saya untuk mengerti bahwa alam itu hidup dan mereka menjadi salah satu faktor kenapa kita bisa masih bertahan di dunia ini. Lestarikan alam dan lestarikan Indonesia. Indonesia itu adalah negara besar. Ratusan suku, jutaan penduduk tidak kecil. Negara sebesar Indonesia tidak akan pernah hilang oleh isu-isu sara jaman now. Enak lah bagi kita yang sudah merasakan betapa indahnya gunung betapa dinginnya dan sunyinya gunung. Bagi saya Semeru adalah pengalaman terbaik dan tidak akan bisa saya lupakan sampai saat ini. Bahkan akan saya bagikan ke anak-anak saya nanti.

Awan Argoho

Instagram